Harus dipertegas, bahwa suara hati lebih bersifat subyektif, karena keputusan dan sikap batin kita sangat dipengaruhi oleh diri sendiri. Suara hati mencerminkan segala pengertian dan prasangka kita sendiri, karena ternyata suara hati bersumber pada diri sendiri. Dalam hal ini, kita tidak boleh menyamakan suara hati nurani sama seperti suara Allah. Tetapi meski pun suara hati nurani tidak boleh disamakan sebagai suara Allah, namun hati nurani berhubungan dengan yang Ilahi — Hukum Taurat yang tertulis di dalamnya. Hati nurani juga bersifat personal dan adipersonal. Bersifat personal, karena selalu berkaitan erat dengan pribadi yang bersangkutan. Bersifat adipersonal, karena seolah-olah melebihi pribadi kita yang merupakan instansi di atas kita dalam menerangi dan memberikan kesadaran terhadap moral kita.
Dalam hal inilah, perlu adanya pendidikan dan pendewasaan hati nurani. Orang percaya yang ingin bertumbuh dewasa, harus mendidik hati nuraninya dengan firman Tuhan. Firman harus mendidik hati nurani kita, supaya dapat menjadi corong suara Tuhan dalam diri kita. Seorang yang mengerti firman Tuhan, hati nuraninya akan menjadi instrumen Tuhan yang berbicara di dalam dirinya.
taken from http://rehobot.net
No comments:
Post a Comment